Selamat Hari Pahlawan, Indonesiaku….Saat usiamu kian matang, saat gairah hidup kami kian bergelora, kini aku terkenang rentang masa pergolakan dan pertumpahan darah itu. Bumi Surabaya, Bumi Jawa Timur, Bumi Indonesia. Merah dengan darah!!! Semerah kibar semangat Merah Putih yang sobekkan si biru…Majuuuu….Hancurkan musuh-musuh kita, lenyapkan angkara murka dan kedholiman….Tuhan bersama kita…Majuuuu Arek-arek Suroboyo!!!!
Arggghhh…saya emang gak pandai merangkai kata-kata seperti piawainya Bung Tomo. Tapi terus terang meski saya tidak pernah tahu dan merasakan langsung peristiwa heroik itu, jantung saya berdegup tidak normal saat membaca sedikit untaian sejarah tentang gelora kisah 10 Nopember. Saya coba cuplikan sejarah itu, meski tidak dengan gaya tulisan prosa atau novel, tapi sungguh!!!, bikin saya bergetar.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris,”
Berikutnya kalimat-kalimat ini:
Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali.”
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan bom udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Berbagai bagian kota Surabaya dibombardir dan ditembak dengan meriamlaut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal mupun terluka.
Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris. Setidaknya 6,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. [2]. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600.
Silahkan selengkapnya BACA DISINI
Saya hanya bisa berdoa, semoga arwah para Pahlawan tenang, meski kini Indonesia sedang berduka. Semoga para Pahlawan tetap selalu membekas di sanubari kita bersama. Berjuang, bergotong royong, bahu membahu. Meski dulu dan kini berbeda, namun semangat kalian wahai para Pahlawan, semoga kan selalu BERGELORA di dada kami. Jaya INDONESIA!!!!
Popularity: 20% [?]









makanya jdi suka sedih klo liat pemuda sekarang lbh sering demo anarkis dripada pake otakx buat berjuang,,, pahlawan kita dulu berkorban bkn utk melihat kemunduran peradaban sprti skrg,,,
sebenarnya dijajah lagi, tpi pada gak sadar…
selamat hari pahlawan sob….
Selamat Hari Pahlawan sobat-sobat. Saya pun miris dg temen2, adik dan kakak barangkali, yang demo dikit-dikit anarkhis…Banyak tidak tersampaikan pesannya. Boro-boro sampe, benjut2 yg ada. Semoga Hari Pahlawan kali ini menjadi inspirasi lebih pintar bagi kita semua.
Good day!This was a really outstanding post!
I come from milan, I was luck to approach your theme in wordpress
Also I obtain much in your Topics really thank your very much i will come again
Thanks a ton for putting this up, it was very handy and helped me a lot
Thank you, nice post! This was what I had to know.