(Selamat) Hari HIV/AIDS Se-Dunia 2010

Terus terang saya tidak yakin mesti bilang Selamat Hari HIV/AIDS Sedunia 2010, atau mesti bilang Tidak Selamat. Kenapa? Karena biasanya kata selamat itu kan digunakan untuk nuansa keberhasilan dan ucapan rasa syukur. Misal; Selamat Ulang Tahun, artinya selamat dan syukur kita masih berhasil berulang tahun dan panjang umur. Selamat Hari Raya, artinya bersyukur karena kita bisa merayakan Hari Raya, yang semuanya notabene bermakna positif. Lha kalo HIV/AIDS? Apa selamatnya ya? Selamat karena kita masih bisa bertemu lagi dengan HIV/AIDS? Entahlah, saya nggak mau berlama-lama dalam tahap pengertian bahasa itu. Ada yang jauh lebih mengusik otak dan bikin gatel jari-jari saya.

Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Indonesia per Agustus 2010, jumlah penderita AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 4.128 orang dinyatakan telah meninggal dunia. Dari 21.770 kasus tersebut, 10.471 kasus atau hampir 50 persen di antaranya adalah usia 20-29.

Sementara itu data dari Kemdiknas menyebutkan, penderita terbanyak berada di DKI Jakarta sebanyak 3.740 penderita dan 552 penderita telah mati, Jawa Barat dengan 3.710 penderita dan 663 telah meninggal, Jawa Timur dengan 3.540 penderita dan 732 meninggal. Selanjutnya Papua dengan 2.858 penderita dan 373 meninggal, Bali dengan 1.747 penderita dengan 311 telah meninggal, Jawa Tengah dengan 819 penderita dan 265 meninggal. Pada peringkat tujuh ada Kalimantan Barat dengan 794 penderita dan 107 meninggal, Sulawesi Selatan dengan 591 penderita dan 62 meninggal, Sumatera Utara dengan 485 penderita dan 93 meninggal, dan kesepuluh Riau dengan 477 penderita dan 132 meninggal.

Berikutnya jumlah kumulatif kasus AIDS menurut risiko yakni faktor heteroseksual terdiri atas 10.722 kasus, homo-biseksual ada 718 kasus, pengguna narkoba suntikan ada 8.786 kasus, transfusi darah 20 kasus, transmisi prenatal ada 587 kasus, dan faktor karena penyebab yang tidak diketahui 937 kasus.

SUNGGUH terlalu dach. Saya tidak sempat membayangkan dan berhitung-hitung angka-angka itu. Tapi syukurlah, biar tidak tambah bikin pusing. Hehehe…

Saya jadi bertanya-tanya; apa mereka itu tidak tahu HIV/AIDS itu apa dan seperti apa bahayanya? Bagaimana bisa terjadi dan terinfeksi ataupun tertular? Ataupun bagaimana kemungkinan mencegahnya? Masa iya sih di jaman dan era seperti ini belum tahu tentang HIV/AIDS? Kalo memang itu yang terjadi, berarti memang ada yang salah dengan masyarakat kita.

Sengaja saya tidak menyampaikan lebih detil bagaimana HIV/AIDS itu terjadi dan menular serta bagaimana kemungkinan mencegahnya karena dengan asumsi yang membaca tulisan ini khususnya, dan pengguna internet umumnya, sudah saya anggap tidak asing dengan HIV/AIDS tersebut. Saya lebih bertujuan mengingatkan kita semua akan benar-benar nyatanya penyakit dan bahayanya itu. Kalo diluar media maya ini, saya tentu saja tidak akan menyuruh mereka orang-orang yang saya kenal dan tidak kenal untuk main internet, buka blog saya, dan membacanya. Tentu saja tidak. Saya dan kita semua tentu akan secara langsung mengingatkan akan bahaya dan upaya pencegahannya secara lisan/langsung.

Meski provinsi dan kota saya; Kalimantan Timur tidak termasuk dalam 10 besar kota-kota dengan penderita HIV/AIDS terbanyak tadi, tentu saja saya juga sangat miris dengan kondisi kasus HIV/AIDS di KALTIM…. Yang bahkan menurut berita terbaru hari ini, di Kaltim itu kalo dirata-rata jumlah penderita HIV/AIDS dan resiko 1 (satu) orang yang tertular, maka jumlahnya adalah; 1.000 orang/bulan  yang terjangkiti penyakit HIV/AIDS. Waooo…..RUARRRR BIIASAAAAAA….

Sekali lagi, (Selamat) Hari HIV/AIDS Se Dunia 2010. Semoga sesuai dengan tema Hari HIV/AIDS tahun ini ‘Universal Access and Human Rights’ kita lebih bisa perduli dan semakin membuka akses, terutama informasi, pada saudara-saudara kita yang lain. Marilah kita bantu sesuai dengan bidang dan kemampuan masing-masing. Namun yang lebih penting lagi adalah; Penyesalan itu selalu terakhir datangnya. Kalo sudah tahu resikonya tapi masih juga dikerjakan, itu namanya bunuh diri, konyol. Saya tidak dalam posisi mau menyalahkan para penderita. Saya dalam posisi; mengingatkan. Hidup adalah pilihan. Saya justru lebih prihatin pada orang-orang yang terjangkit justru karena ketidaktahuannya, cabang bayi dalam kandungan misalnya. Tapi sudahlah, mungkin lain waktu kita bisa ngobrol-ngobrol lagi, ya brader ‘en sista…*_* (dari berbagai sumber)

>> Indonesia Siap Bersaing di SERP

Popularity: 25% [?]

About suduthati

Yang Ini Juga Menarik, Silahkan Dinikmati