Setelah seminggu saya nggak OL dan posting, ternyata gatel juga dech. Kebetulan salah satu topik yang lagi rame (atau sengaja dirame-ramein) adalah topik ‘kenaikan gaji presiden’. Awalnya saya nggak pengen komentar, karena bagi saya itu sah-sah saja. Kenaikan gaji dimanapun juga nggak ada yang larang asal sesuai mekanisme dan peraturan yang ada. Tapi yang menjadi saya ‘terusik’ adalah ketika hal yang semestinya biasa-biasa saja dijadikan tidak biasa bahkan terkesan jelek. Sekali lagi, bagi saya, kenaikan gaji presiden (atau siapapun) adalah sah dan wajar saja, kecuali diPELINTIR atau bahasa kerennya DIPOLITISASI oleh orang yang pintar atau sok pintar (kayak saya, hehehe). Sorry kalo tersinggung.
Brader ‘n sista, gaji itu kan juga disesuaikan dengan beban kerja dan tanggungjawabnya. Ya nggak? Dari info yang saya dapet, gaji anggota DPR RI itu selisihnya nggak jauh-jauh amat dari Presiden RI, sekitar 4 jutaan lah (sumber gak usah nyebut-nyebut A1/sangat terpercaya ach, kayak salah satu anggota DPR aja, nonton kan siaran DPR panggil Kapolri terkait kasus si Gayus?. Katanya A1, ternyata salah. Hayah..malu-maluin. Padahal itu yang digembar-gemborkan, tuing tuinnggg….). Terus terang saja ya, secara pribadi 4 juta perbulan itu nggak ada artinya apa-apa. Sorry, bukan menyombongkan. Mohon tetap perhatikan konteksnya. Kalo memang harus ‘menyalahkan’ dan ‘mencaci, mencela, mencibir’ atau apalah namanya, seberapa seringkah kita melakukannya pada selain Presiden? Anggota DPR misalnya? Anda pikir segala sesuatunya itu dari Presiden? Hayah…anda keliru besar kalo gitu. Memangnya beberapa undang-undang yang bermasalah itu dari Presiden? Contoh, polemik kasus video porno Ariel Peterpan yang tidak bisa dijerat sebagai pelaku, hanya sebagai orang yang mengedarkan. Anda pikir undang-undangnya siapa yang bikin dan sah kan? Presiden? Salah bozzzz….Tapi sudahlah. Point saya bukan dalam rangka membahas undang-undang. Itu urusan yang udah dapet gaji sangat besar..hehehehhe..
Kenapa sih semuanya mesti Presiden yang disalah-salahkan? Sorry, saya bukan membela presiden secara perseorangan. Saya dari dulu sampe yang terakhir PEMILU belom pernah nyoblos (gak nyoblos bangga, hahahaa..). Jadi tidak ada tendensi karena itu Presiden atau partai pilihan saya. NO WAY. Saya hanya berusaha untuk objektif.
Kembali ke topik kenaikan gaji Presiden tadi. Saya sudah melihat dan menyimak langsung di TV saat Presiden SBY menyampaikan kalimat-kalimat itu. Saya bukan pakar ilmu komunikasi, tapi saya juga faham betul bahwa konteks orang bicara itu berbeda dan menentukan maknanya. Jangan pula dipotong-potong. Mari perhatikan saduran ini; “Gaji saya sudah 7 tahun tidak naik-naik”. Bandingkan dengan yang ini; “Bapak ibu, kita terus mengusahakan perbaikan kesejahteraan. Beberapa tahun belakangan gaji sudah ada perbaikan dan akan terus diupayakan perbaikannya. Gaji saya saja sudah 7 tahun tidak naik. Tapi tidak apa-apa. Mari kita terus bekerja….”. Terasa perbedaannya? Tentu saja!
Sekali lagi bagi saya, itu pernyataan yang biasa-biasa saja. Namun yang muncul dipermukaan, yang kebanyakan disampaikan oleh para politisi, pengamat dan lain-lain yang hanya ikut-ikutan dan saya meragukan netralitasnya, adalah bahwa; Presiden tidak sepantasnya minta gajinya dinaikkan. Masih banyak rakyat miskin, bla bla bla. Lho, kok aneh banget bagi saya. Yang minta gaji dinaikkan itu siapa??? Ini mereka yang terlalu pintar atau saya yang terlalu bodoh ya?!!! Celakanya lagi adalah; banyak orang, mungkin juga termasuk kita yang sudah terlanjur panas dan ikut-ikutan menghujat karena mendengar persepsi yang salah. Maka jadilah semuanya menghujat salah-salah. Maka jadilah republik ini negeri salah hujat. Tuing tuingggggggggggggggg…..gubraakkkk. Mau bikin di Facebook ‘koin untuk Presiden’ kek, untuk Jelangkung kek, ya terserah. Tapi mbok yao mikir yang lain napa? Jangan malah bikin kisruh. Ini pengalihan issue. Hadeh…opo maneh kuwi….xixixixixii. Over dosis kita ini!
Rakyat bawah kayak saya itu sebenarnya gampang panas karena dipanas-panasin. Tapi juga gampang adem karena diadem-ademin. Maksud saya, coba yang disampaikan atau dikomentari secara adem, pasti rakyat kecil kayak saya ini juga berpikir lain. Misal nih, kenapa sih nggak di kedepankan dan digembar-gemborkan yang gini; “Mari kita terus bekerja, tetap semangat. Jangan memikirkan pamrih terlebih dahulu. Presiden aja yang udah bertahun-tahun gajinya nggak naik-naik, tetap semangat dan giat berusaha.” Nah tuh..beda kan. Ini yang sekarang malah lain. Justru ada mantan Presiden yang bilang dan mencibir di depan banyak kadernya dan disiarkan stasiun TV nasional, dengan mimik muka yang bagi saya nggak ada wibawa sama sekali;” Siapa suruh jadi Presiden???”. Walah…untung juga saya nggak nyoblos…hihihihhihiii..peace peace…
OK lah brader ‘n sista, dibagian akhir obrolan kita kali ini, saya kutipkan sebuah kalimat bermakna: “People love to criticize other people and they love to complain, because it brings them a sense of superiority, and it gives them a sense of power. If I can criticize you it fulfills my urgent need to be right. Right? If I can find fault with all that you do it means that I am smarter than you and I can do your job better. Right? Wrong! It just means that I am an egotistical prat”. (Robyn MS).
Saduran sederhananya adalah; Kita suka mengkritik dan komplain terhadap orang lain karena itu memberikan rasa Superioritas dan Kekuasaan. Kita mengkritik guna memenuhi kebutuhan ‘mendesak’ kita supaya dianggap kitalah yang benar. Ya nggak? Kalo kita bisa menemukan kesalahan orang lain, berarti kita lebih pandai dari dia. Ya kan? Salah! Hal itu sebenarnya hanya membuktikan bahwa kita adalah orang yang arogan dan besar kepala.” Nah lho…hayooo…
Semoga perilaku senang mencari kesalahan, mempolitisir, memelintir dan semacamnya ini bisa menjauh dari saya, dan tentu saja dari anda. Untuk semua pihak, marilah lebih berpikir positif. Tebarkan aura positif, bukan malah negatif. Tebarkan aura optimis, bukan pesimis. Mari kita nikmati hidup dan jauhi mencari-cari kesalahan orang lain. Maaf jika ada yang tidak berkenan. Mari kita ngobrol-ngobrol…
Popularity: 14% [?]









Kapan aq naik gaji ya hix ,,,,,
karena kita mahluk sosial
naik gaji asalkan dibarengi dengan kinerja yang semkin baik\
entahlah sahabat, rakyat mana yg bertambah sejahtera … atau yg dulu kekurangan sekarang menjadi cukup …., btw nice posting sahabat memberi warna tersendiri. Salam
urusan naik gaji itu udah ada mekanismenya, pasti juga mesti dengan persetujuan DPR. Lha ini orang-orang yang mempolitisir juga byk orang-orang DPR. Coba mereka nggak perlu dibesar-besarkan, saya yakin rakyat kita tidak akan resah dan antipati. Kalo emang nggak setuju, ya tinggal ntar di sidang DPR ditolak. Selesai. Gaji yang sekarang ada toh itu juga melalui persetujuan DPR kan? Sungguh, kita ini suka banget mencari-cari kesalahan orang lain. Ngapain kita koar-koar minta orang lain bijak sementara kita sendiri tidak bijak? TERLALU, kata bang haji Oma Irama..hehehe..
alooww braderrr….itulah manusia bro…hehehe…
btw alexanya cepet banget noh turunya..ada tipsnya ga neh brader…hihi
hahaha..brader suhu, jadi malu saya…*_*. Alexa segitu PR gak bergerak-gerak. Brader lebih tahulah dari saya…*_^.
Btw, pengen jg saya bikin radio streaming..
mengkritik dan dikritik itu biasa dalam negara demokrasi. apalagi figur publik. dikit-dikit dikritik, wong namanya panutan sob…
>brader bgg, secara pribadi saya tidak pernah anti kritik dan saran, saya sangat sepaham. Namun menurut saya yang perlu diinget adalah mari kita hilangkan tendensi mencari dan menyambar kekhilafan orang lain, apalagi mengolok-oloknya. Saya tidak berburuk sangka, sekedar mengingatkan. Bukankah hati manusia hanya Tuhan yang tahu pasti?
keren artikelnya,..
kapan naek gji
tanya kenapa..???
hhhe hhee……
mungkin sudah menjadi adat bagi kita kali..
salam kakak.
hehehe…tenkiyu. alhamdulillah, saya tidak akan naik-naik gajinya, wong pengangguran…..hahahahha.
Salam kompersa para brader blogger
terlalu lebay kadang..
ya nggak?
padahal banyak yang harus di benahi, bukan hanya terseret ke masalah2 sepele yang semestinya ga perlu
dari pada pusing2 mikirin naik gaji mending pada naik odong2 bareng saya,,,he,,he
salam sahabat ^_^
hahahahaha….ya gitulah ‘susah’nya berhadapan dengan orang-orang pinter; pinter ngakal-ngakali…hehehehhe. Kalo udah ada kepentingan, lain dach ceritanya. OK lah, mending yukkk naik odong2 dulu bareng2. Lha…tapi apa ya kuat odong-odongnya??? xixixixiixi..
gua malah bingung,mau di bawa kemana negeriku ini
hye…bw here…
nice blog!
Betul..betull.betul…, ketika lisan kita sibuk membicarakan aib orang, maka sadarilah bahwa kita pun punya banya aib dan orang lain punya lisan.
itulah makanya komentator $epakbola gajinya gede,karna $uka mengkritik orang…hahaha nice info $ob
betul sekali,,,,
mantap dah infonya,,,
I blog often and i really am greatful for your website. The page has really peaked my interest. I am going to save your web site and keep hoping for new content.